Breaking News

MILAD 22

Our Class

Senin, 06 Januari 2014

Simpai Keramatku

Tatkala fatamorgana yang melepuh-lepuh dalam buaian panas sang raja jalan. Hitamnya menusuk–nusuk raga, legamnya menjilatkan bara serpihan luka. Tak peduli siapapun yang menghamba, tetap teguh sifatnya. Mungkin itu yang dirasakan Xian Ling pagi ini. Ia sahabat bajaku. Tak peduli sebesar apa yang menimpanya tak dapat menghancurkan kerasnya sebutir atom dalam dirinya. Ia simpai keramat versiku, seorang sejenis Arai dalam novel Andrea Hirata, punya kelebihan yang membara dalam hidupnya, sedang Xian Ling, ia Simpai Keramat ke 2. Baranya tak cukup pada mimpinya, bahkan sikap dan kerasnya rasa yang mutlak termasuk kedalamnya. Dia seorang anak SMA seperti biasa, namun qalbunya menusuk. Entah apa yang merasukinya, simpai keramat duaku itu pandai mendebarkan hati.
           
Pagi itu, Xian Ling beraut pucat. Ia menggengam sebuah buku kuno bau uzur. Buku itu karya sastra bestseller yang sedikit sekali orang yang bisa memahaminya. “Edensor” buku Andrea Hirata yang mafhum tentang segala kata serapan yang tak bisa di pahami dalam satu kali baca bagi orang normal. Tapi Xian Ling, ia selalu terunggul. Tatapannya terhadapku, sayu, aku tahu itu karena kemarin nilai tugas Bahasa Indonesianya mendapatkan nilai bukan main rendahnya, 56. Cita luhurnya menjadi seorang penulis, tapi entah dia selalu senewen menutupi citanya itu dengan menjadi dosen atau apalah. tapi karena nilai itu cita luhurnya seperti di raup oleh dementor pencabut nyawa dalam Harry Potter. Miris Sekali!! Memang kejam Bu Hinda, guru Bahasa Indonesi dari Madura itu amatlah sadis untuk memberi waktu pengerjaan. 25 soal Bahasa Indonesian SMA yang satu soalnya mencapai sejengkal telapak orang dewasa itu dipaksa untuk selesai dalam 30 menit, sedang bila itu semua dikaji dengan sungguh, satu soalnya harus selesai dalam kurang dari dua menit. Dan bagi Xian Ling peninjauan soal standar nasional itu butuh waktu lebih dari tiga menit dalam satu soal. Akhirnya, tuntas sudah sebab dari nilai jelek bukan mainnya Xian Ling. Tatapannya kosong setiap melewati celah dari SMA antara pantai dan gunung tersebut. SMA MUNJUNGAN 1, Trenggalek, Tulungagung, Jawa Timur.
           
Tapi bukan Xian Ling jika hari itu ia tetap murung, ia selalu tertawa sepanjang hari . Gadis berkacamata tebal itu sudah melewati banyak tantangan hidup. Sejak kecil, jarang menghabiskan waktu dengan ibunya, menyendiri dan melamun pekerjaannya tiap waktu. Bila aku spesifikasikan dalam paradigma penduduk, bagian atas bawahnya sedikit, tanda rendahnya angka harapan hidup. Tiga tahun ia sudah dipisahkan dengan bapak aslinya tanpa tahu rupanya. Tinggal dengan bapaknya yang sekarang, dengan ujian hidup selama 10 tahun dalam kekerasan mental dan fisik. Jika di tanya kapan ia akan menjenguk bapak aslinya, ia cengengesan sambil berkata “Tidak tahu, Bah. Ndak penting!”. Setelah itu barulah ia lari kesemak dan menangis sendiri.

Anak idiot itu tak tahu sebenarnya aku tahu gerik ketika sesudah atau akan sedih. Bodoh, ia tak tahu ada aku disini, pundakku adalah silahan mutlak gundahnya. Bodoh! Kau selalu tak tahu. Kadang jika keadaannya sejajar garis Elektrokardiogram yang berarti sekarat, ia hanya berkata “Umma, maafkan aku. Aku hanya merasa sulit untuk tertawa.” Dan itu berarti dia baru saja mendapatkan hantaman lebih keras dari tinju Mike Tyson dalam hatinya. Aku lebih tahu ia dari siapapun. Jika ia terlalu bahagia maka ia lebih sedih daripada ia terlihat sedih. Dan itulah ciri dasar Gadis bermuka Asia itu. Dipikirnya, dia tidak bisa bertingkah idiot lagi untuk membuatku tertawa untuk sementara. Dan bodohnya, dia kembali tidak sadar bahwa aku sangat tahu gelagat idiot yang dibuat-buatnya untuk menutupi segala bekas luka di wajahnya. Bodoh! Aku selalu disini untuk memberikan kebahagianmu yang sebenarnya, jangan hanya kamu yang merasakannya. Perlukah kau tampar pipiku untuk menyamakan rasamu? Jika memang begitu. Lakukanlah!
                
Sore itu di halaman sekolah, terdapat konflik antar Vida, seorang gadis kaya yang teramat ditakuti karena kesemena-menaannya dan seorang pengemis perempuan tua yang gila. Srinah namanya. Pengemis itu memberikan mangga busuk pada Vida, Vida melemparnya dengan acuh “Singkirkan dariku, Menjijikan”. Pengemis itu mengambilnya lagi lalu diberikan kepada vida kembali, dan vida kembali membuangnya lebih jauh. Waktu itu, Aku dan Xian Ling mengantri bolos dua jam pelajaran untuk mendapatkan siomay special pak yono yang mengalahkan rasa sandwich eropa.  Simpai keramat dua itu kembali mengembang kempiskan dadaku dengan menghampiri Vida, ia memekik “Bodoh!” katanya sambil berlari menghampiri pengemis itu, aku megikutinya, kembang kempis jantungku. “Nenek ndak papa ?” tanyanya halus. Ini ada sesuatu, ia menyodorkan kantong plastic siomay kami.Tk kaget aku dibuatnya, dia selalu membut kejutan besar. Dia berbincang sedikit dengan Srinah lalu kita kembali.
           
Di dalam kelas, lagat Xian Ling aneh. Gadis cina jawa itu sering tersenyum-senyum sendiri dalam kelas. Xian Ling pada detik ini laksana acara tivi yang kulihat lama tapi tak kupahami artinya. Sungguh hatiku goyah dan berdebar. Segala dugaan buruk menikamku, salah satunya takut bila ia terserang virus srinah yang ternyata terserang rabies! Pikiranku semakin kacau balau. Aku dan Xian Ling sepertinya mengidap Sakit gila Andrea Hirata nomer 16 : penyakit manusia yang membuat dunia sendiri dalam kepalanya, menciptakan masalah-masalahnya sendiri, terpuruk didalamnya, lalu menyelesaikan masala-masalahnya itu, sambil tertawa-tawa, juga sendirian (terdapat dalam Maryamah Karpov). Miris Sekali!!
            
Sepulang sekolah, ia mengajakku mampir ke toko buah. Dibelinya sekilo buah pear dengan membayar 35 ribu dengan uang SPPnya. Bodoh!! Aku tahu ia akan dapat masalah terhadap bapaknya. Dan seketika aku tahu alasannya nanti adalah “Hilang” lalu besok ia akan sekolah dengan dua bekas tangan di pipinya. Kita melanjutkan perjalanan, dan ia mengambil jalan berbeda. Sudah biasa, tingkahnya selalu membuat sesuatu yang baru. Tapi kita berhenti di gubuk tua. Dia menyalami Srinah, dan menyerahkan plastic pear tadi sambil tersenyum lebar. Dan inilah simpai keramatku selalu membuat hati berdebar. Dialah alasan dimana rasa bebanku selalu berkurang, seseorang berbawaan santai tapi menghanyutkan. Senyumku haru disertai tetesan mengalir anggun disela-sela mataku.
            
Xian Ling juga mempunyai cerita cinta. Tapi Miris!. Tipenya selalu tidak setipe dengannya. Yang bukan tipenya selalu bertipe seperti Xian Ling. Karena itu ia selalu gagal dalam kisah ini. Bagaimana tidak, ia selalu suka dengan laki-laki beragama kuat yang bertipe wanita solekah dan pendiam. Sedang Xian Ling? Gadis cina jawa yang melompat-lompat waktu berjalan, Miris!. Akhir-akhir ini ia dekat dengan lelaki tinggi putih dan pendiam. Tapi sosialisasi dengan wanita-wanita cenderung berlebihan maka Xian Ling berpikir dua kali akan itu. Aku tau, Xian Ling suka terhadapnya, ia sering mengkhawatirkan kesehatan lelaki itu karena lelaki itu seorang yang gampang sakit. Aku tak tahu, kisahnya tentang ini selalu rumit. Berkali-kali dia seperti itu, entah siapa yang akan menjadi tuan dari hatinya yang suci dan tulus itu. Siapapun itu dia orang yang paling beruntung.
           
Inilah Collack-ku. Cerita yang kutahu tentang sahabat baja simpai keramat duaku. Dan aku tak tahu yang belum kutahui. Dia terobsesi pada tantangan tertinggi dan cobaan sampai batas terendah dia bisa menoleransi daya tahannya. Dengan segala mimpi, imajinasi dan sikapnya. Ia menjadi lebih sejajar dengan arai, simpai keramat pertama. Bukti semangat pemuda yang tak ada duanya! (zhw)

1 komentar:

Designed By